BEBERAPA ETIKA MAKAN DAN MINUM MENURUT SUNNAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAHI WA ALIHI WA SALLAM

OLEH: ANDIN

BAGIAN I  : PENDAHULUAN

BAGIAN II : ETIKA MAKAN DAN MINUM

  1. Memakan makanan yang halal dan baik
  2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
  3. Makan dan minum sambil duduk
  4. Membaca bismillah sebelum makan dan minum
  5. Makan dan minum menggunakan tangan kanan
  6. Makan dengan tiga jari
  7. Memungut makanan yang jatuh
  8. Makan dari pinggir piring
  9. Mengulum jari-jari setelah selesai makan

10.  Memuji Allah subhnahu wa ta’ala setelah selesai makan dan minum

11.  Tidak boleh mencela makanan

12.  Tidak boleh makan dan minum menggunakan wadah dari emas atau perak

13.  Tidak boleh bernafas dan meniup wadah

14.  Tidak boleh minum langsung dari girbah atau penyimpan air

15.  Menenggelamkan lalat yang jatuh ke dalam wadah

16.  Makan dengan berjamaah

BAGIAN III : PENUTUP

1.   KESIMPULAN

2.   SARAN

BAGIAN IV : DAFTAR PUSTAKA

BAGIAN I

PENDAHULUAN

Gaya hidup modern yang selalu digembar-gemborkan oleh orang-orang Barat ternyata telah membudaya luas di kalangan masyarakat dunia. Gaya hidup Barat yang materialistik ini bahkan telah menjamur dangan kuat di beberapa negara muslim. Indonesia sebagai negara yang penduduk terbanyaknya muslim[1] tidak terlepas dari virus gaya hidup ala Barat ini.

Banyak orang yang mengaku islam di negara ini yang berusaha menerapkan gaya hidup Barat ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Termasuk salah-satunya dalam hal makan. Banyak di antara mereka yang menyukai makanan dan minuman produk Barat yang tak jelas halal-haramnya. Begitu juga mereka dengan bangga meniru cara makan orang-orang Barat yang menyelisihi tuntunan islam seperti makan dengan tangan kiri atau menggunakan kedua tangan. Padahal sebagai seorang muslim tak sepantasnya meniru kelakuan orang-orang Barat dan menjadikan mereka sebagai teladan. Karena orang yang paling pantas dan harus dijadikan teladan bagi setiap muslim adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam.

Beliau sebagai utusan Allah subhnahu wa ta’ala telah mengajarkan kepada umat beliau tentang segala hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka tanpa tertinggal sedikitpun. Termasuk juga dalam hal makan dan minum, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam telah mengajarkan etika makan dan minum kepada umat beliau. Etika-etika ini dapat diketahui melalui hadits-hadits yang membicarakan cara dan anjuran beliau shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam dalam soal makan dan minum yang banyak terdapat di dalam kitab-kitab hadits.

Untuk dapat mengetahui lebih dalam masalah etika makan dan minum Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam ini, penulis akan memaparkan dalam makalah ini beberapa etika yang disarikan dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam dan penulis memberikan judul makalah ini dengan: BEBERAPA ETIKA MAKAN DAN MINUM MENURUT SUNNAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAHI WA ALIHI WA SALLAM ’.


BAGIAN II

ETIKA MAKAN DAN MINUM

Pada bagian ini penulis akan memaparkan beberapa etika makan dan minum Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam dengan menyertakan hadits yang menjadi asal bagi etika tersebut dan menambahi keterangan jika diperlukan. Etika-etika itu adalah :

  1. 1. Memakan makanan yang halal dan baik

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الله َتَعَالىَ طَيِِّبٌ لَايَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ اْلمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى ( يَااَيُّهَاالرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالحِاً ) وَ قاَل ( َياإَيُّهَالَّذِيْنَ أمََنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ)

Artinya:

“Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Baik, tidak mau menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintah orang-orang yang beriman dengan apa yang Ia perintahkan kepada para rasul. Maka Taala (Yang Maha Tinggi) berfirman: “Wahai para rasul makanlah dari barang-barang yang baik dan beramal shalehlah kalian “dan Ia juga berfirman :” Wahai orang-orang yamg beriman makanlah dari barang-barang baik yang telah Kami rezekikan kepada kalian.”[2]

  1. 2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

Keterangan: Penulis tidak mendapati hadist shahih yang bisa dijadikan asal bagi etika ini, namun cukup sekiranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam yang menyatakan bahwa “اَلَّطهُوْرُ شَطْرُ اْلِِإيْمَانِ”, artinya: “kesucian itu separoh keimanan”[3]dan hadits lain yang semakna dengannya menjadi sumber kesahihan etika ini. Hal ini disebabkan karena seorang muslim haruslah selalu menjaga kesucian dan kebersihan anggota badan. Sehingga jika sebagian tubuhnya terkena kotoran atau yang semisalnya seperti sisa/ bekas makanan tentunya akan segera dicuci. Wallahu a’lam.

  1. 3. Makan dan minum sambil duduk

Sahabat Anas radliyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri”. Lantas para sahabat Anas berkata :”Bagaimana dengan makan?. Anas menjawab: “Itu lebih buruk lagi!”.[4]Sahabat Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata:” Kami di masa Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam makan dalam keadaan berjalan dan minum dalam keadaan berdiri”.[5]

Keterangan : Hadits ini menunjukkan bahwa cara minum menurut sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam adalah dengan duduk, karena beliau shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam melarang orang minum dengan berdiri. Jika seseorang minum dengan berdiri maka hukumnya makruh. Kemakruhan minum dengan berdiri ini disimpulkan dari hasil menggabungkan hadits larangan minum dengan berdiri dengan hadits yang membolehkannya sebagaimana hadits Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu di atas.[6] Adapun masalah makan , memang tidak ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam yang melarang makan dengan berdiri, namun ada larangan dari Sahabat Anas radliyallahu ‘anhu yang patut diteladani.[7]

Menjaga sikap duduk ketika makan juga termasuk etika yang harus dilakukan dan diperhatikan oleh setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam bersabda : “لَااَكُلُ مُتَّكِأً “artinya :”Aku tidak makan dengan bersandaran”.[8] Maksud bersandaran di sini bisa dengan menyandarkan punggungnya atau salah satu pundaknya ke dinding atau dengan meletakkan di bawah badannya (beralaskan) bantal.[9]

  1. 4. Membaca bismillah sebelum makan dan minum

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَكَلَ اَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَ إِذَا نَسِيَ فِى اَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِِسْمِ اللهِ فِى اَوَّلِهِ وَاَخِرِهِ

Artinya :

“Apabila seseorang di antara kalian makan maka hendaklah mengucapkan bismillah dan apabila dia lupa (mengucapkannya) pada waktu awalnya maka hendaklah ia mengucapkan bismillah fi awwlihi wa akhirih”.[10]

Keterangan : Menurut Syaikh Al-Utsaimin membaca bismillah sebelum makan dan minum hukumnya wajib.[11]Dalam membaca bismillah seseorang tidak perlu menambahi dengan lafal ar-rahmanir-rahim karena di dalam hadits ini hanya ada perintah untuk membaca bismillah saja.Wallahu a’lam.

  1. 5. Makan dan minum menggunakan tangan kanan

Nabi shallallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَكَلَ اَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ وَ إِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانِ يَأْكُلُ وَ يَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

Artinya:

“Jika seseorang di antara kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika ia minum hendaklah minum dengan tangan kanannya. Maka sesungguhnya syaithon makan dan minum dengan tangan kirinya”.[12]

Keterangan : Makan dan minum menggunakan tangan kanan hukumnya wajib. Oleh karena itu, tidak boleh seseorang makan atau minum menggunakan tangan kiri kecuali adanya sebab syar’i yang menghalanginya dari menggunakan tangan kanan seperti tidak mempunyai tangan kanan atau tangan kanannya sakit. Adapun seseorang yang memegang gelas misalnya dengan tangan kiri lalu minum dengan tangan itu juga dengan alasan karena tangan kanannya kotor, maka itu bukanlah alasan yang dapat diterima dan jika ia tetap melakukannya maka dia berdosa.[13].

  1. Makan dengan tiga jari

Sahabat Ka’ab bin Malik radliyallahu ‘anhu pernah melihat Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam makan dengan tiga jari. Lalu setelah selesai, beliau mengulum jari-jari tersebut.[14]

Keterangan : Etika ini masih tetap berlaku untuk zaman sekarang bukan sebagaimana persangkaan orang bahwa ini hanya berlaku untuk orang-orang zaman dulu saja. Namun berlakunya etika ini hanya untuk makanan yang memang bisa dimakan dengan tiga jari. Adapun makanan yang tak bisa dimakan dengan tiga jari bahkan harus menggunakan sendok misalnya karena makanan itu berupa kuah atau sayuran, maka hendaklah dimakan dengan sendok dan hal ini tidak menyalahi etika.Wallahu a’lam.

  1. 7. Memungut makanan yang jatuh

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ اَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمْطِ مَابِهَا مِنْ أَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَ لَايَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ”.

Artinya :

“Apabila suapan seseorang di antara kalian jatuh maka hendaklah ia mengambilnya, menghilangkan kotoran yang ada padanya, lalu memakannya dan janganlah meninggalkannya untuk syaithon..”.[15]

Keterangan : Alasan memungut makanan yang jatuh adalah supaya tidak meninggalkannya untuk syaithon. Hal ini disebabkan karena syaithon selalu mengikuti manusia dalam segala keadaannya sampai ketika waktu makan juga.

Tatkala seseorang makan dan sudah membaca bismillah maka syaithon tak bisa ikut menikmati makanan tersebut. Oleh sebab itu ia mencari kesempatan sampai jatuhnya sebagian makanan tersebut. Jika ada makanan jatuh dan tidak diambil oleh orang yang memakannya maka akan dimakan olehnya.[16]

  1. 8. Makan dari pinggir piring

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam bersabda :

“َالََْبَرَكَةُ تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوْا مِنْ حَافَّتَيْهِ وَ لَاتَأْكُلُوْا مِنْ وَسَطِهِ “

Artinya :

“Berkah itu turun di tengah makanan maka makanlah dari pinggirnya dan janganlah kalian makan dari tengahnya”.[17]

Keterangan : Berkah suatu makanan berada di bagian tengahnya. Oleh karena itu makan dari tengah piring menyebabkan hilangnya berkah tersebut. Akan tetapi menurut ulama dikecualikan dari hal ini apabila makanan tersebut bermacam-macam. Jika makanan bermacam-macam lalu seseorang mau mengambil sebagian macam makanan yang berada di tengah maka hal ini tidak apa-apa.[18]

  1. Mengulum jari-jari setelah selesai makan

Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَكَلَ اَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلاَ يَمْسَحْ اَصَابِعَهُ حَتَّى يَلْعَقَهاَ اَو يُلْعِقَهَا “.

Artinya :

“Apabila seseorang di antara kalian makan suatu makanan maka janganlah ia membasuh jari-jarinya sampai mengulumnya atau (orang lain) mengulumnya”.[19]

Keterangan : Mengulum jari-jari setelah makan bisa dilakukan baik oleh orang yang makan sendiri maupun oleh orang lain seperti istri. Etika ini dianjurkan agar orang yang makan bisa mendapatkan berkah dari makanan yang sedang ia makan, sedangkan ia sendiri tidak tahu di mana keberadaan berkah tersebut.Wallahu a’lam.

Dan yang termasuk sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam juga adalah menjilati piring yang digunakan untuk makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah memerintahkan hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Anas radliyallahu ‘anhu. [20]Menjilati piring ini bisa dilakukan dengan mulut secara langsung atau dengan mengusapnya dulu menggunakan tangan baru kemudian menjilati tangan tersebut. Wallahu a’lam.

10. Memuji Allah subhnahu wa ta’ala setelah selesai makan dan minum

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

َّإِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ اْلعَبْدِ يَأْكُلُ اْلأَكْلَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا وَ يَشْرَبُ الشُّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا” .

Artinya :

“Sesungguhnya Allah sangat rela terhadap seorang hamba yang makan satu makanan lalu memuji-Nya dan minum satu minuman lalu memuji-Nya “.[21]

Keterangan : Salah satu do’a yang dianjurkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam untuk dibaca setelah makan yang mengandung unsur pujian dan mampu menghilangkan dosa adalah

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَطْعَمَنِيْ هَذاَ وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَ لَاقُوَّةٍ”.

Artinya:

“Segala puji bagi Allah dzat yang telah memberiku makanan ini dan memberiku rezeki dengan tanpa daya dan kekuatan dariku”.[22]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mengatakan bahwa orang yang mengucapkan do’a ini dosa-dosanya yang telah lewat akan diampuni.[23]

11. Tidak boleh mencela makanan

Sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata :”Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam tidak pernah sama sekali mencela makanan. Jika menyukainya, beliau makan dan jika tidak suka, beliau tinggalkan”.[24]

Keterangan : Memuji kelezatan suatu makanan termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam sedangkan mencela makanan seperti mengatakan “ Ini kurma yang jelek “tatkala menghidangkannya kepada seseorang termasuk menyelisihi petunjuk beliau shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam .[25]

12. Tidak boleh makan dan minum menggunakan wadah dari emas atau perak.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam bersabda :

“لَاتَشْرَبُوْا فٍِي اَنِيَةِ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ وَلَاتَلْبَسُوا اْلحَرِيْرَ وَالدِّيْبَاجِ فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَكُمْ فِي اْلأَخِرَةِ”.

Artinya :

”Janganlah kalian minum dari wadah emas dan perak dan janganlah memakai pakaian sutra tebal maupun tipis. Sesungguhnya dia bagi mereka (orang kafir) di dunia dan bagi kalian di akhirat”.[26]

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ الَّذِى يَأْكُلُ اَوْ يَشْرَبُ فِي اَنِيَةِ الذَّهَبِ وَ اْلفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِى بَطْنِِِِِهِِ نَارَ جَهَنَّمَ”

Artinya :

“Sesungguhnya orang yang makan atau minum dari wadah emas dan perak hanyalah menggemuruhkan di dalam perutnya api neraka jahannam”.[27]

Keterangan : Makan dan minum menggunakan wadah yang terbuat dari emas atau perak hukumnya haram dan termasuk dosa besar.[28]

13. Tidak boleh bernafas dan meniup wadah

Sahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam melarang dari bernafas atau meniup (apa yang ada)di dalam wadah.[29]

Beliau radliyallahu ‘anhu juga berkata :”Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam biasa bernafas ketika minum dengan tiga kali nafas (di luar wadah)”.[30]

Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam bersabda :

“لَاتَشْرَبُوْا وَاحِداً كَشُرْبِ اْلبَعِيْرِوَلَكِنِ اشْرَبُوْا مَثْنَى وَثُلَاثَ وَسَمُّوْا إِذَا أَنْتُمْ شَرِبْتُمْ وَ احْمَدُوْا ِإذّا أَنْتُمْ رَفَعْتُمْ ” .

Artinya :

”Janganlah kalian minum sekaligus seperti minumnya onta tetapi minumlah dua kali atau tiga kali,dan ucapkanlah bismillah tatkala kalian minum dan ucapkanlah hamdallah tatkala kalian selesai”.[31]

Keterangan : Bernafas di dalam wadah ketika sedang minum dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam Begitu pula minum sekaligus dengan bernafas di dalam wadah juga dilarang karena ini menyerupai kebiasaan hewan ternak seperti onta. Sedangkan yang termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam adalah bernafas tiga kali di luar wadah yaitu dengan cara minum, bernafas di luar wadah, minum, bernafas, minum, kemudian bernafas lagi.[32]

Selain melarang dari bernafas di dalam wadah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam juga melarang orang meniup-niup minuman meskipun masih panas. Bahkan jika minuman tersebut kemasukan sesuatu seperti ranting kecil cara mengeluarkannya bukannya dengan meniupnya tetapi dengan mengambilnya dengan tangan. Hikmah dari larangan bernafas di dalam wadah adalah karena nafas yang keluar dari mulut akan menjadikan jijik orang yang minum sesudahnya. Begitu pula kadang-kadang nafas tersebut mengandung penyakit dari lambung, paru-paru, atau dari mulut yang akan melekat di wadah tersebut.[33]

14. Tidak boleh minum langsung dari girbah atau penyimpan air

Sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam melarang seseorang minum langsung dari mulut wadah minuman atau girbah.[34]

Keterangan : Hikmah dari larangan ini adalah air pada zaman dulu bukanlah air yang bersih sehingga jika dimasukkan ke dalam girbah (tempat minuman dari kulit) atau wadah lainnya akan keluar darinya sesuatu yang mengganggu seperti cacing atau binatang kecil lainnya.[35]

Adapun untuk orang zaman sekarang meskipun kemungkinan hikmah ini sudah tidak ada lagi namun larangan ini tetaplah berlaku. Untuk orang Indonesia khususnya minum langsung dari teko, jerigen, atau wadah-wadah lainnya merupakan adab yang tidak baik dan ini sesuai dengan etika Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam yang melarang minum secara langsung dari wadah-wadah tersebut.Wallahu a’lam.

15. Menenggelamkan lalat yang jatuh ke dalam wadah

Nabi shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam bersabda :

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى ِانَاءِ اَحَدِكُمْ فَاْملُقُوْاهُ فَإِنَّ فِى اَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَ فِي اْلأَخَرِ شِفَاءً وَ ِإنَّهُ يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ الَّذِى فِيَهِ دَاءٌ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ “ .

Artinya :

” Apabila lalat terjatuh di wadah seseorang di antara kalian maka tenggelamkanlah dia. Sesungguhnya di salah satu sayapnya ada penyakit dan di lainnya ada obat. Dan sesungguhnya ia berlindung dengan sayapnya yang mengandung penyakit maka hendaklah ia menenggelamkannya seluruhnya”.[36]

Keterangan : Pada hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam memerintah untuk menenggelamkan seluruh badan lalat jika terjatuh ke dalam wadah yang berisi minuman atau makanan. Beliau shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam juga memberi tahu bahwa lalat mempunyai sayap yang mengandung bibit penyakit dan sayap yang mengandung obat. Oleh karena itu jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman maka harus ditenggelamkan seluruh badannya. Hal ini beliau shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam perintahkan karena tidak diketahuinya mana sayap yang mengandung penyakit dan mana sayap yang mengandung obat. Dengan menenggelamkan seluruh badan lalat maka obat yang ada pada salah satu sayapnya akan menjadi penetral atau penawar bagi bibit penyakit yang terdapat pada sayap yang satunya lagi. Sehingga, air yang kejatuhan lalat tersebut sudah terbebas dari penyakit.Wallahu a’lam.

16. Makan dengan berjamaah

Para sahabat pernah mengaduh kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam bahwa mereka tak merasa kenyang ketika makan. Lalu beliau shallallahu ‘alahi wa alihi wa sallam meduga barangkali mereka makan sendiri-sendiri. Ternyata mereka membenarkan dugaan beliau. Lantas beliau shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam bersabda :

“فَاجْتَمِعُوْا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوااسْمَ اللهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيْهِ “

Artinya :

”Berkumpullah atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah niscaya kalian akan diberkahi padanya”.[37]

Keterangan : Makan berjama’ah yaitu makan bersama-sama dengan satu wadah menyebabkan timbulnya berkah sedangkan makan sendiri-sendiri yaitu setiap orang membawa piring sendiri menjadikan hilangnya berkah.[38]Wallahu a’lam.


BAGIAN III

PENUTUP

  1. 1. KESIMPULAN

Etika makan dan minum menurut sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam yang penulis paparkan dalam makalah ini berjumlah 16 (enam belas) etika. Etika-etika tersebut adalah sebagai berikut :

1.  Memakan makanan yang halal dan baik

2.  Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

3.  Makan dan minum sambil duduk

4.  Membaca bismillah sebelum makan dan minum

5.  Makan dan minum menggunakan tangan kanan

6.  Makan dengan tiga jari

7.  Memungut makanan yang jatuh

8.  Makan dari pinggir piring

9.  Mengulum jari-jari setelah selesai makan

10.Memuji Allah subhnahu wa ta’ala setelah selesai makan dan minum

11.Tidak boleh mencela makanan

12.Tidak boleh makan dan minum menggunakan wadah dari emas atau perak

13.Tidak boleh bernafas dan meniup wadah

14.Tidak boleh minum langsung dari girbah atau penyimpan air

15.Menenggelamkan lalat yang jatuh ke dalam wadah

16.Makan dengan berjamaah

  1. 2. SARAN
  2. Hendaklah setiap muslim berusaha menerapkan etika makan dan minum yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam dengan sekuat tenaga.
  3. Hendaklah orang yang mengaku muslim tidak mengikuti gaya hidup orang-orang Barat termasuk juga dalam hal etika makan.
  4. Hendaklah setiap muslim yang sudah mengetahui etika makan dan minum menurut sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa  alihi wa sallam mengajarkannya kepada orang yang belum tahu.

الحمد لله رب العالمين


BAGIAN IV

DAFTAR PUSTAKA

  1. 1. Muslim, Abul Husain bin Al-Hajjaj bin Muslim, Al-Qusyairi, An-Naisaburi, Al-Jami‘ush Shahih, Darul Fikr, Beirut, Lebanon, Tanpa Nomor Cetakan, Tanpa Tahun.
  2. 2. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats, As-Sijistani, Sunanu Abi Dawud, Darul Fikr, Tanpa Nama Kota, Cetakan I, 1410 H / 1990 M.
  3. 3. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid, Abu ‘Abdillah, Al-Qazwini, Al-Hafidh, Sunanubni Majah, Darul Fikr, Tanpa Nama Kota, Tanpa Nomor Cetakan, Tanpa Tahun.
  4. 4. At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Abu ‘Isa, Al-Jami’ush Shahih wa Huwa Sunanut Tirmidzi, Mathba’ah Mushthafal Babil Halabi wa Auladuhu, Kairo, Cet. I, 1356 H / 1937 M.
  5. 5. Al-Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il, Al-‘Allamah, Shahihul Bukhari, Darul Fikr, Beirut, Lebanon, Tanpa Nomor Cetakan, 1414 H / 1994 M.
  6. 6. An-Nawawi, Abu Zakaria Yahya bin Syarf, An-Nawawi, Ad-Dimsyaqi, Riyadlush Shalihin, Darul Fikri, 1414 H / 1994 M.
  7. 7. Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syeikh, Syarhu Riyadlish Shalihin, Daru Ibni Haitsam, Kairo.
  8. 8. Syadili, Hasan, Ensiklopedi Indonesia, PT. Intermasa, Jakarta.
  9. 9. Al-Muzaidi, Harist bin Zaidan, Etika Makan Islami, elBA, 2007.

[1] Ensiklopedi Indonesia hal: 1418

[2] Shahih Muslim no: 1015

[3] Shahih Muslim no: 223

[4] Shahih Muslim no: 2024

[5] Sunanut Tirmidzi no:1880

[6] Syarhu Riyadlish Shilihin juz.3 hal:31

[7] Etika Makan Islam hal:41

[8] Shahihul Bukhari no:5398

[9] Riyadlush Shalihn hal: 159

[10] Sunanut Tirmidzi no: 1858-

[11] Syarhu Riyadlish Shalihin juz.3 hal:11

[12] Shahih Muslim no: 5233

[13] Syarhu Riyadlish Shalihin juz.3 hal: 11

[14] Shahih Muslim no: 2032

[15] Shahih Muslim no:2033

[16] Syarhu Riyadlish Shalihin juz.3 hal: 26

[17] Sunanut Tirmidzi no : 1805

[18] Syarhu Riyadlish Shalihin juz.3 hal: 22

[19] Shahihul Bukhari no: 5456

[20] Shahih Muslim no:2034

[21] Shahih Muslim no: 2734

[22] Sunanut Tirmidzi no:3458

[23] Ibid.

[24] Shahihul Bukhari no:5409

[25] Syarhu Riyadlsh Shalihin juz.3 hal: 15-16

[26] Shahihul Bukhari no:5633

[27] Shahih Muslim no:2065

[28] Syarhu Riyadlish Shalihin juz.3 hal:37

[29] Sunanut Tirmidzi no: 1888

[30] Shahihul Bukhari no: 5631

[31] Sunanut Tirmidzi no: 1885

[32] Syarhu Riyadlish Shalihin juz.3 hal:28

[33] Syarhu Riyadlish Shalihin juz3 hal:28

[34] Shahihul Burkhari no:5628

[35] Syarhu Riyadlish Shalihin juz3 hal:29

[36] Sunan Abu Dawud no:3844

[37] Sunan Ibnu majah No:3286

[38] Syarhu Riyadlish Shalihin juz.3 hal:21

3 tanggapan untuk “BEBERAPA ETIKA MAKAN DAN MINUM MENURUT SUNNAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAHI WA ALIHI WA SALLAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s