BEBERAPA PEMBAHASAN SEPUTAR HUKUM CADAR BAGI WANITA

Kerangka Makalah

BAB I   PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Tujuan Penulisan
  3. Bentuk Tulisan
  4. Sistematika Penulisan

BAB II   BEBERAPA PEMBAHASAN SEPUTAR HUKUM CADAR BAGI WANITA

  1. Pendapat Ustadzah Siti Saudah, Al.

1.1   Hadits-hadits tentang terbukanya wajah wanita pada masa Rasulullah

1.2   Riwayat Aisyah tentang bagian tubuh wanita yang boleh ditampakkan

  1. Pendapat Syaikh Abdurrahman As-Sudays

2.1    Riwayat tentang para wanita muhrim yang menutupi wajah saat para pengendara lewat

2.2    Riwayat tentang perintah menutup wajah ketika wanita keluar rumah

2.3    Riwayat Aisyah tentang larangan pergi ke mushalla jika Rasulullah sampai mendapati kelakuan para wanita sepeninggal beliau

2.4    Kesepakatan ulama tentang larangan menampakkan bagian tubuh wanita jika ditakutkan fitnah

  1. Pendapat Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad

3.1    Renungan seputar hadits tentang wajibnya menutupi telapak kaki wanita

3.2    Renungan seputar kisah malunya Fathimah Az-Zahra

BAB III   PENUTUP

  1. Simpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah [1]

Allah telah menghancurkan peradaban-peradaban dan bangsa-bangsa besar di dunia antara lain karena mereka merendahkan kaum wanita mereka.

Sejarah telah mencatat bangsa Yunani yang memberikan “kebebasan” kepada kaum wanita, padahal sebenarnya hal itu ditujukan untuk memperturutkan dorongan nafsu mereka. Sejarah juga telah mencatat bangsa Persia yang menganaktirikan wanita. Salah satunya, mereka menganggap bahwa hukuman hanya berlaku atas wanita. Sejarah masih mengenang bangsa Romawi, Cina, India, Yahudi, Kristen serta Arab Jahiliyah yang mengesampingkan hak pernikahan dan warisan kaum wanita. Berbeda dengan bangsa lain yang menganggap wanita sebagai makhluk tak berharga, bangsa Arab Jahiliyah justru menganggap wanita sebagai harta yang dapat diperjualbelikan.

Kemudian islam datang membebaskan wanita dari semua itu. Islam datang dan mendudukkan wanita pada tempat yang semestinya. Islam juga melindungi wanita dari gangguan dan marabahaya, salah satunya dengan syari’at hijab.

Namun muslimin berbeda pendapat tentang berbagai hal seputar hijab, terutama cadar. Oleh karena itu maka penulis berkeinginan untuk mengumpulkan sebagian pembahasan tentang cadar, kemudian menuliskannya dalam makalah berjudul: BEBERAPA PEMBAHASAN SEPUTAR HUKUM CADAR BAGI WANITA.

2. Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis guna mengungkapkan beberapa pembahasan seputar hukum cadar bagi wanita.

3. Bentuk Tulisan

Makalah ini ditulis dengan bentuk tulisan eksposisi, yaitu tulisan yang bertujuan untuk memberi penjelasan atau informasi dan diuraikan dalam sebuah proses. [2]

4. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut:

Bagian pertama, yang merupakan pendahuluan dalam makalah ini. Bagian ini berisikan bab pertama, yang terdiri dari latar belakang masalah, tujuan penulisan, bentuk tulisan dan sistematika penulisan.

Bab kedua dalam makalah ini menjadi isi makalah. Pada bagian ini penulis menyebutkan beberapa pembahasan seputar hukum cadar bagi wanita.

Bagian terakhir makalah ini dimuat dalam bab ketiga, yang terdiri dari simpulan dari pembahasan dalam bab kedua dan kemudian disertai dengan saran penulis.

BAB II
BEBERAPA PEMBAHASAN SEPUTAR HUKUM CADAR BAGI WANITA

Dalam makalah berjudul “Hukum Cadar Bagi Wanita”, ustadzah Siti Saudah menyimpulkan bahwa hukum cadar bagi wanita adalah mubah.

Beliau sampai kepada simpulan ini karena terdapat lebih dari satu hadits yang menunjukkan terbukanya wajah kaum wanita pada masa Rasulullah. Salah satu dari hadits-hadits itu adalah hadits tentang seorang wanita berpipi merah kehitam-hitaman yang bertanya kepada Rasulullah mengapa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.

Beliau juga berpegang pada riwayat Abu Daud, dari Aisyah, bahwa Rasulullah bersabda kepada Asmaa bahwa bagian tubuh wanita yang boleh terlihat jika sudah baligh hanyalah wajah dan telapak tangan. [3]

Namun hadits ini dinilai dlaif oleh syaikh Abdurrahman as-Sudays, karena Khalid bin Duraik yang meriwayatkan hadits ini dari Aisyah tidak pernah bertemu Aisyah. Selain itu, dalam hadits ini terdapat dua rowi mudallis yang tidak meriwayatkan dengan redaksi periwayatan yang meyakinkan. Syaikh as-Sudays menambahkan bahwa kalaupun hadits ini dapat diangkat derajatnya, maka hadits ini serta hadits-hadits semisalnya (yang menunjukkan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan aurat) masih mengandung kemungkinan bahwa hal itu terjadi sebelum turun ayat-ayat hijab. [4]

Syaikh as-Sudays sendiri berpendapat bahwa hukum cadar bagi wanita adalah wajib. Salah satu dalil yang beliau gunakan adalah hadits yang menceritakan bahwa para wanita yang sedang berihram menutupi wajah mereka tatkala rombongan pengendara berlalu di hadapan mereka. [5]

Namun hadits ini dinilai dlaif oleh ustadzah Saudah. [6]

Syaikh as-Sudays juga berhujah dengan riwayat Ibnu Jarir yang menyatakan bahwa Allah memerintahkan para wanita beriman agar menutupi wajah ketika mereka keluar rumah untuk keperluan mereka. [7]

Namun riwayat ini dinilai dlaif oleh ustadzah Saudah. [8]

Dalil lain yang dipegang oleh syaikh as-Sudays adalah riwayat syaikh al-Bukhari bahwa Aisyah mengatakan bahwa kalau saja Rasulullah mendapati apa yang dilakukan oleh kaum wanita sepeninggal beliau, tentu beliau akan melarang mereka pergi ke tempat-tempat shalat. As-Sudays berkata,”Ini untuk generasi-generasi utama (semasa hidup Aisyah)…. Lantas bagaimana jadinya jika beliau mendapati tingkah wanita zaman ini…?”

Beliau menambahkan,”Dan ulama telah sepakat bahwa kalau dikhawatirkan timbul fitnah dari wanita, maka tidak boleh tampak sesuatupun dari anggota tubuhnya…. Sedang siapa yang menjamin bahwa zaman ini teramankan dari fitnah…?!?” [9]

Syaikh Abdul Muhsin al-Ahmad sependapat dengan syaikh as-Sudays. Beliau menambahkan dalil berupa hadits tentang perintah menutupi telapak kaki wanita. Beliau berkata,” Subhanallah, ini adalah sebuah hadd; agama kita tidak membolehkan tersingkapnya ujung-ujung kaki; yang padanya tiada sepasang mata bercelak, bibir maupun pipi!!! Subhanallah! Kalau dzat yang Mahabijaksana mengharamkan hal ini guna mencegah fitnah…, lantas bagaimana dengan tempat kecantikan wanita (wajahnya)???” [10]

Beliau juga menyebutkan kisah Fathimah az-Zahra yang merasa malu jika kelak setelah wafatnya dia akan keluar ke tengah-tengah kaum lelaki dengan “hanya” mengenakan kafan. Menurut beliau, para wanita hendaknya mencontoh fathimah yang meski sudah wafat dan tidak tampak sedikitpun bagian tubuhnya, tetap merasa malu jika harus terlihat oleh kaum lelaki. [11]

BAB III
PENUTUP

1. Simpulan

Al-Ustadzah Siti Saudah, Al. menyimpulkan bahwa hukum cadar bagi wanita adalah mubah.

Syaikh Abdurrahman as-Sudays dan syaikh Abdul Muhsin al-Ahmad menyimpulkan bahwa hukum cadar bagi wanita adalah wajib.

2. Saran

Dalam menyikapi perbedaan di kalangan muslimin, hendaknya kita berusaha memilih dan menjalankan pendapat yang benar, dengan tetap menaruh hormat terhadap orang yang berlainan pendapat dengan kita.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahmad, Abdul Muhsin.___. Li annaki Ghaliyah. ___ : ___.

Al-Istambuli, M. Mahdi; Asy-Syilbi, Musthafa Abun Nashri. 2007 M. Istri-Istri Dan Putri-Putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Serta Peranan Beliau Terhadap Mereka. Bandung:Irsyad Baitus Salam.

As-Sudays, Abdurrahman. ___. Nida un Ilal Mar atil Muslimah. ___: ___.

Keraf, Dr. Gorys. 1980 M. Komposisi. Flores: Nusa Indah.

Saudah, Siti. 2006 M/1427 H. Hukum Cadar Bagi Wanita. Surakarta: ___.


[1] Materi Latar Belakang Masalah diambil dari kitab Istri-Istri dan Putri-Putri Rasulullah, karya M. mahdi Al-Istambuli dan Musthafa Abun Nashri Asy-Syilbi, hlm. 35-62.

[2] Gorys Keraf, Komposisi, hlm. 110.

[3] Saudah, Hukum Cadar Bagi Wanita, hlm. 10.

[4] Dari rekaman khutbah Jum’ah bertajuk “Nida un Ilal Mar atil Muslimah”.

[5] Dari rekaman khutbah Jum’ah bertajuk “Nida un Ilal Mar atil Muslimah”.

[6] Saudah, Hukum Cadar Bagi Wanita, hlm. 15.

[7] Dari rekaman khutbah Jum’ah bertajuk “Nida un Ilal Mar atil Muslimah”.

[8] Saudah, Hukum Cadar Bagi Wanita, hlm. 34.

[9] Dari rekaman khutbah Jum’ah bertajuk “Nida un Ilal Mar atil Muslimah”.

[10] Abdul Muhsin, Li annaki Ghaliyah, hlm. 20.

[11] Abdul Muhsin, Li annaki Ghaliyah, hlm. 8.

Satu tanggapan untuk “BEBERAPA PEMBAHASAN SEPUTAR HUKUM CADAR BAGI WANITA

  1. alhamdulillah…, kalau diliat2, artikel ni ga mutusin seswatu…. so, klu diliat dari tuturnya, sptx penulis mo ngomong klu cadar tu wajib… but mgkn krn seswatu hal, dia rada nyamarkan p’dptx…
    ala kulli hal, smua yg b’pendapat kudu py dalil…
    walhamdulillah…

    mang gitu… tu karna plajaran yg sdg kuikuti m’hrsk’Q tuk nyebutin smua tnp kasih simpulan…
    tp alhamdulillah ada yg pahami mksdQ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s