Pendapat Ulama Tentang Naiknya Derajat Hadits Dlaif Menjadi Hasan Karena Ta’addud

Oleh : Asmaa A. binti Muhammad Salim

DAFTAR ISI

BAB I                         Pendahuluan

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Kegunaan Penelitian
  5. Metodologi Penelitian

BAB II            Pengertian dan Penjelasan tentang Naiknya Derajat Hadits Dhaif menjadi Hasan dengan Adanya Ta’addud Thuruq

  1. Pengertian dan Penjelasan tentang Hadits Dhaif
  2. Pengertian dan Penjelasan tentang Hasan
  3. Pengertian dan Penjelasan tentang Ta’addud Thuruq

BAB III          Pendapat Ulama Ahli Hadits tentang Naiknya Derajat Hadits Dhaif menjadi Hasan dengan Adanya Ta’addud Thuruq

  1. Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin Al Abbad
  2. Muhammad Jamaluddin Al Qosimi
  3. Dr. Shubhi Shaleh
  4. Ibnush Shalah

BAB IV          Penutup

  1. Kesimpulan
  2. Saran-saran

BAB  I

PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang Masalah

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا (الحشر : 7)

Artinya : ”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimlah dia. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah”. (QS. Al Hasyr : 07)[1]

Jumhur Ulama berhujjah dengan ayat diatas bahwa sunnah Rasulullah adalah dalil dan mereka lebih mendahulukan pengamalan sunnah beliau daripada pendapat orang-orang selain beliau.[2] Sunnah beliau terdapat dalam hadits-hadits. Untuk dapat dijadikan dalil, hadits harus diperiksa keotentikannya. Hadits yang otentik adalah hadits yang berderajat shahih dan hasan. Hadits dhaif merupakan hadits yang tidak otentik.

Tertera dalam kitab-kitab Mushtholah hadits diantaranya kitab min Athyabil Manhi fi Ilmil Mustholah[3] bahwa hadits dhaif bila diriwayatkan dari jalur lain yang sama-sama berderajat dhaif (Ta’addud Thuruq) akan naik derajatnya menjadi Hasan. Namun penulis pernah mendapati seorang ustadz mengatakan bahwa hadits dhaif tidak bisa naik derajatnya dengan adanya hadits dhaif lain. Hadits dhaif beliau umpamakan sebagai minus dalam teori matematika, dimana minus jika dijumlahkan dengan minus hasilnya tetap minus. Tidak bisa menjadi plus. Begitu pula hadits dhaif jika diikuti jalur priwayatannya oleh hadits dhaif lain maka hadits itu tetaplah berderajat dhaif.

Penulis tidak merasa puas dengan hanya mengetahui pertentangan ini. Maka penulis ingin mendata lebih lanjut perkataan para Ulama ahli hadits dalam masalah ini. Penulis merealisasikan keinginan tersebut dengan mengadakan penelitian dan menyusunnya menjadi suatu karya ilmiah berjudul ”Pendapat Ulama Tentang Naiknya Derajat Hadits Dhaif Menjadi Hasan Karena Taaddud Thuruq”

  1. 2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah : ”Apa pendapat Ulama tentang naiknya derajat hadits dhaif menjadi hasan karena taaddud thuruq ?”

  1. 3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa pendapat Ulama tentang naiknya derajat hadits dhaif menjadi hasan karena Taaddud Thuruq.

  1. 4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna :

Untuk menambah pengetahuan dan meperluas wawasan dalam bidang agama (dalam hal in bidang mustholah hadits) bagi penulis khususnya dan pembela umumnya.

Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan muslimin.

  1. 5. Metode Pengumpulan Data

Dalam studi literatur ini, pengumpulan data penulis lakukan dengan membaca, mengkaji, kemudian mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan pembahasan penelitian ini dari kitab-kitab yang menjadi sumber data yakni kitab-kitab mustholah hadits.

BAB  II

PENGERTIAN DAN PEMBAHASAN TENTANG NAIKNYA DERAJAT HADITS DHAIF MENJADI HASAN KARENA TA’ADDUD THURUQ

  1. 1. Pengertian dan Penjelasan tentang Hadits Dhaif

Kata hadits menurut bahasa arab berarti sesuatu yang baru. Sedangkan menurut ilmu mustholah hadits berarti apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw, baik itu berupa perkataan, perbuatan, pendiaman maupun penyifatan.[4]

Kata dhaif juga berasal dari bahasa arab yang artinya sesuatu yang lemah. Dalam ilmu musthalah hadits, kata dhaif merupakan sifat bagi hadits. Hadits dhaif berarti hadits yang lemah. Dikatakan lemah karena hadits tersebut belum mempunyai syarat-syarat hadits yang bisa diterima keotentikannya. [5]

  1. 2. Pengertian dan Penjelasan tentang  Hasan

Kata Hasan berasal dari bahasa arab yang artinya sesuatu yang baik. Dalam ilmu musthalah hadits, kata Hasan merupakan sifat bagi hadits. Hadits Hasan adalah hadits yang sanadnya[6] bersambung dari permulaan sampai akhir. Diriwayatkan oleh orang-orang yang adl[7] yang kedhabitannya [8] kurang tanpa ada syudzudz[9] dan illat. [10] [11]

Hadits hasan terbagi menjadi dua, Hasan li dzatihi dan Hasan lighairihi. Dilihat dari segi bahasa, hadits hasan lidzatihi berarti hadits yang diseebut hasan dengan sebab dirinya sendiri. Maksudnya sanad hadits tersebut terdiri dari perawi-perawi berderajat hasan. Pemutlakan istilah hasan biasanya merujuk pada makna hasan lidzatihi.[12]

Hasan lighairihi menurut bahasa berarti hasan dengan sebab sesuatu yang lain. Sedang menurut istilah musthalah hadits, berarti hadits dhaif yang jalur periwayatannya diikuti oleh hadits sederajat dengannya atau lebih kuat derajat darinya. [13]

  1. 3. Pengertian dan Penjelasan Taaddud Thuruq

Kata taaddud Thuruq berasal dari dua kata yaitu ta’addud dan thuruq. Kedua kata ini berasal dari bahasa arab.

Kata ta’addud merupakan masdar[14] dari kata kerja ta’addada yang artinya banyak jumlahnya / bilangannya.[15] Maka arti kata ta’addud adalah banyaknya jumlah atau bilangan.

Kata thuruq merupakan bentuk jamak dari kata thariq. Kata thariq artinya jalan[16] atau dengan kata lain jalur. Maka arti kata ta’addud thuruq adalah banyaknya jalur (maksudnya jalur periwayatan).

BAB III

PENDAPAT ULAMA TENTANG NAIKNYA DERAJAT DHAIF MENJADI HASAN KARENA TA’ADDUD THURUQ

  1. 1. Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin Al Abbad.[17]

Dalam pembahasan tentang hasan lighairihi, Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin al Abbad berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasan lighairihi adalah hadits yang tidak dapat diterima seperti hadits yang diriwayatkan oleh rawi mastur[18] jika diikuti oleh hadits yang sederajat atau lebih kuat derajat darinya.

  1. 2. Muhammad Jamaluddin al Qosimi.[19]

Dengan menukil pendapat Ibnu Hajar, Al Qosimi menyatakan bahwa hadits yang menjadi dhaif dengan sebab kedustaan maupun kefasikan rawinya merupakan hadits yang parah kedhaifannya. Karena itu, banyaknya jalur periwayatan hadits tersebut tidak bisa membantu menaikkan derajatnya. Adapun jika hadits itu diriwayatkan dan jalur dhaif lain yang kedhaifannya tidak parah, maka hadits dhaif tersebut naik derajatnya menjadi hasan.

Al Qosimi juga menukil pendapat Ulama ahli hadits lain, yaitu As Sakhawi, An Nawawi, Al Baihaqi dan Al Hasan bin Al Qaththan yang sependapat dengan Ibnu Hajar.

Al Qosimi juga menyatakan bahwa dalam hal ini pendapat Adh Dhahiriyyah[20] menyelisihi pendapat Ibnu Hajar. Sebagai perwakilan Al Qosimi menukil pendapat Ibnu Hazm bahwa hadits yang pada sanadnya terdapat rawi yang dicela karena kedustaan atau kelalaiannya ataupun keberadaannya yang tidak diketahui tidak bisa diterima sama sekali.

  1. 3. Dr. Shubhi Shaleh [21]

Dalam membahas dua macam hadits hasan, beliau menyatakan bahwa yang diseut dengan hadits hasan secara mutlak adalah hasan lidzatihi. Sedangkan hadits hasan lighairihi adalah hadits yang di dalam sanadnya terdapat rowi mastur, maka hadits tersebut secara aslinya berderajat dhaif. Namun hadits dhaif tersebut diriwayatkan tidak hanya melalui satu jalur, maka derajatnya naik ke hasan.

Namun jika dalam sanad hadits dhaif terdapat rawi lalai maupun tertuduh berdusta, maka banyaknya jalur periwayatan hadits tersebut tidak bisa membantu menaikkan derajatnya.

  1. 4. Ibnush Shalah[22]

Dalam pembahasan tentang hadits hasan. Ibnus Shalah mengatakan bahwa hadits hasan ada dua macam yaitu :

1)   Hadits yang jalur periwayatannya terdiri dari rawi-rawi yang terkenal dengan kejujuran dan amanahnya. Namun, rawi-rawi tersebut hafalan dan ketelitiannya belum memenuhi kriteria rawi shahih. Ibnus Shalah mengambil pengertian ini dari perkataan Al Khanththabi, seorang Ulama ahli hadits.

2)   Hadits yang dalam jalur periwayatannya ada rawi mastur. namun rawi tersebut bukan rawi yang lali, tertuduh berdusta, pendusta, maupun fasik. Dan hadits tersebut diriwayatkan melalui lebih dari satu jalur. Beliau mengambil pengertian ini dan perkataan At Turmudzi, seorang Ulama ahli hadits.[23]

Dalam pembahasan tentang macam kedua hadits hasan, Ibnus Shalah menerangkan mengapa hadits dhaif macam ini bisa naik derajatnya. Beliau menyatakan bahwa rawi semacam ini masih bisa dipercaya kejujurannya. Hanya saja kekuatan hafalannya masih dipertanyakan. Jika rawi ini meriwayatkan sebuah hadits dan hadits tersebut diriwayatkan dari jalur selain jalurnya (entah jalur itu jalur shahih atau dhaif tapi dhaif yang masih bisa diselamatkan derajatnya) maka berarti, hafalan rawi dalam meriwayatkan hadits tersebut dapat diterima. Karena seseorang yang paling buruk hafalannya pun adakalanya benar hafalannya dan tidak selamanya salah.[24]


PENUTUP

  1. 1. Kesimpulan

Abdul Karim Harlan, Abdul Muhsin Al Abbad, Muhammad Jamaluddin Al Qosimi, Dr. Shubhi Shaleh, Ibnush Shalah, An Nawawi, Ibnu Hajar, As Sakhawi, Al Baihaqi, dan Al Hasan bin Al Qaththan berpendapat bahwa hadits dhaif bisa naik derajat menjadi Hasan Lighairihi karena ta’addud thuruq. Namun, tidak semua hadits dhaif bisa naik derajat menjadi hasan lighairihi karena ta’addud thuruq.

Adz Dzahiriyyah berpendapat bahwa hadits dhaif tidak bisa naik derajat menjadi hasan lighairihi karena ta’addud thuruq.

  1. 2. Saran –saran

Banyaknya jumlah Ulama yang berpendapat bahwa hadits dhaif bisa naik derajatnya menjadi hasan lighairihi tidak menjamin kebenaran pendapat ini. Karena itu muslimin bebas untuk memilih pendapat yang benar menurut keyakinan masing-masing .

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mushaf Al Qur’anul Karim

Kitab-kitab Musthalah Hadits

  1. Al Abbad, Abdul Muhsin dan Abdul Karim Harlan, Min Athyabil Manhi fi Ilmil Musthalah, Al Jami’atul Islamiyah, Madinah, tanpa nomor cetakan 1408 H
  2. Al Qasimi, Muhammad Jamaluddin, Qowaidut Tahdits fi Fununi Musthalahil Hadits, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, cet I, 1399 H / 1969 M
  3. Ath Thahhan, Mahmud, Doktor, Taisiru Musthalahil Hadits, Darul Fikr, tanpa tempat, tanpa nomor cetakan, tanpa tahun
  4. Ibnus Shalah, Utsman bin Abdir Rahman, Abu Umar, al Hafidz, Ulumul Hadits al Ma’ruf bi Muqaddimati Ibnish Shalah, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut Lebanon, tanpa nomor cetakan, 1989 M / 1409 H
  5. Shubhi Shaleh, Doktor, Ulumul Hadits wa Musthalahuh, Darul Ilmi lil Malayiyyin, Cet. 18, 1991 M.

Kitab-kitab lain

  1. Hifni Nashif, Bek. Dkk. Qowaidul Lughatil Arabiyyah li Talamidzi madaritsits Tsanawiyyah, Al Maktabah al Hidayah, Surabaya, Indonesia, tanpa nomor cetakan, tanpa tahun.
  2. Marzuki, Metodologi Riset, Yogyakarta, tanpa nomor cetakan, 1997 M
  3. Munawwir, Achmad Warson, Kamus Al Munawwir, Surabaya, Pustaka Progessif, cet…. , 2002

10.  Tim Penyusun Ensiklopedi Hukum Islam, Ensiklopedi Hukum Islam, 1997, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, cet I

11.  Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al Qur’an, al Qur’an dan Terjemahnya, CV. Diponegoro, Bandung, Indonesia, cet IV, 2004 M.


[1] Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al Qur’an, Al Qur’an dan Terjemanya, hlm. 436

[2] Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin Al Abbad, min Athyabil Manhi fi Ilmil Mustholah, hlm. 78, Khatimah

[3] Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin Al Abbad, min Athyabil Manhi fi Ilmil Mushthalah, hlm.16

[4] Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin al Abbad, min Athyabil Manhi fi Ilmil Musthalah, hlm. 6

[5] Ath Thahhan, Taisiru Musthalahil  Hadits, hlm. 52

[6] Sanad dirumuskan sebagai berikut (Ath Thahhan, Taisiru Musthalahir Hadits, hlm. 15)

سلسلة الرجال الموصلو للمتن

Artinya :”Rangkaian rawi-rawi  hadits yang terus bersambung hingga matan”.

[7] Adl dirumuskan sebagai berikut :

عدالة الرواة : اي كان كل راو من رواته قد اتصف بكونه مسلما بالغا عاقلا غير فاسق و غير مخروم المروؤة                                              (Ath Thahhan, Tasisiru Musthalahil Hadits, hlm. 30)

Artinya : “Ke-adl-an rawi-rawi : setiap rowi dari keseluruhan rawinya bersifat muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan tidak tercela harga dirinya”.

[8] Dhabith dirumuskan sebagai berikut :

ضبط الرواة : أي كان كل راو من رواته كان تام الضبط اما ضبط الضدر أو ضبط كتاب

(Ath Thahhan, Taisiru Musthalahil hadits, hlm. 30) artinya : “Kedhabitan perowi-perowi : setiap rowi dari keseluruhan rowi-rowinya benar-benar dhabith (kuat hafalannya), baik hafalan dengan ingatan maupun tulisan.”

[9] Syudzudz dirumuskan sebagai berikut :                                 الشذوذ هو مخالفة الثقة طن هو أوثق منه

(Ath Thahhan, Taisiru Musthalahil Hadits, hlm. 30).

Artinya : “Syudzudz adalah penyelisihan seorang rawi thiqot akan rawi lebih tsiqot darinya”.

[10] Illat dirumuskan sebagai berikut :

العلة سبب غامض خفي يقدح فى صحة الحديث مع أن الظاهر السلامة منه

(Ath Thahhan, Taisiru Musthalahil Hadits, hlm 30)

Artinya : “Illat adalah suatu sebab yang tertutup dan tersembunyi, yang merusak keshahihan (keotentikan) hadits, sedangkan secara zahirnya ia tetap ada”.

[11] Ath Thahhan, Taisiru Musthalahil Hadits, hlm. 38

[12] Dr. Shubhi Shaleh, Ulumul Hadits wa Musthalahuh, hlm 156

[13] Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin al Abbad, min Athyabil Manhi fi Ilmil Musthalah, hlm 16

[14] Kata Masdar berasal dari istilah bahasa arab, dirumuskan sebagai berikut : (Hifni Nashif dkk, Qowaidul Lughah, hlm 28)                                                    ما دل على الحدث مجرّدا عن الزمان

Artinya : “Apa-apa yang menunjukkan atas kejadian dan ia tidak terikat oleh waktu”.

[15] Achmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir. Hlm 903

[16] Achmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir. Hlm 849

[17] Abdul Karim Harlan dan Abdul Muhsin al Abbad, min Athyabil Manhi fi ilmil Musthalah, hlm. 16

[18] Mastur sebagaimana disebutkan oleh Dr. Shubhi Shaleh adalah :

(Dr. Shubhi Shaleh, Ulumul Hadits wa Musthalahuh, لم تتحقق اهليته ولا عدم أهليته, hlm. 156) Artinya : mastur (yakni) belum jelas kemampuannya maupun ketidakmampuannya.

[19] Muhammad Jamaluddin Al Qosimi, Qowaidud Tahdits, hlm. 159

[20] Adh Dhahiriyah adalah aliran yang berdasarkan lahiriyah (tekstual nas). Madzhab Adh Dhahiriyah merupakan salah satu madzhab fikih yang pernah ada dan muncul pertama kali di Spanyol dan Afrika Utara. Selain nama Adh Dhahiri madzhab ini dikenal juga dengan nama madzhab Ad Daudi, karena madzhab ini dibangun oleh seorang fakih besar yang bernama Daud bin Ali bin  Khalaf Al Isfahani yang dijuluki Abu Sulaiman Daud Adh Dhahiri. Para pengikut madzhab ini disebut Adh Dhahir atau Adh Dhahiri. (Tim Penyusun Ensiklopedi Hukum Islam, Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 6 hlm. 1976, dengan perubahan seperlunya).

[21] Dr. Shubhi Shaleh, Ulumul Hadits wa Musthalahuh, hlm. 156

[22] Ibnush Shalah, Ulumul Hadits, hlm. 15

[23] Ibnus Shalah, Ulumul Hadits, hlm. 17.

[24] Ibnush Shalah, Ulumul Hadits, hlm 17

Ambil Filenya Disini

2 tanggapan untuk “Pendapat Ulama Tentang Naiknya Derajat Hadits Dlaif Menjadi Hasan Karena Ta’addud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s